RAFTING ADVENTURE

Jumat, 02 Maret 2012 | 0 komentar

Minggu, 26 Februari 2012 merupakan pengalaman yang menarik bagi saya karena sebelumnya belum pernah merasakan. Dan bagaimana dengan Saudara sekalian???? Ini ceirta saya.
Ditawari oleh teman (bersama Sekolah Pintar Merapi) untuk mencoba rekreasi yang menantang dengan menggunakan rakit tiup untuk menelusuri sungai atau badan air lainnya di daerah Sungai Elo, Magelang.  Olah raga yang menuntuk keterampilan (renang khususnya) ini sungguh sangat menantang sekali.  Apalagi bila mendengar bahwa sungai tersebut ada biawaknya. Geli-geli menakutkan gimana gitu, tapi asyik dan menantang.
Kemampuan prima yang harus dihadapi saat arung jeram baru saya dapat setelah kemarin benar-benar mencoba. Dari sana saya dapat cara-cara menghadapi keadaan darurat di sungai.  Hal ini penting untuk melatih kesipan, kemampuan, dan kepercayaan diri apabila memang harus menghadapinya ketika sedang melakukan arung jeram.
Rafting grade yang ada di Sungai tersebut adalah 3-4, artinya gelombang masih kecil, mungkin drop kecil, namun tidak ada bahaya yang cukup besar. (Skill level: experiented padding skills). Sedangkan rafting grade 4 adalah gelombang menengah, mungkin bantuan, mungkin penuruna yang cukup besar, maneuver tajam mungkin diperlukan (skill level: whitewater experience)
Dari grade tersebut sangat cocok sekali bagi kita yang tidak dan belum pernah olahraga air: rafting.  Sungguh menggembirakan saat perjalanan dari titik start hingga finish. Perjalanan menelusuri dengan teriak-teriak saat ada arus yang lumayan deras, hingga senyam-senyum saat permainan di air tenang dan saat melihat teman-teman lain yang dijeburin di sungai. Hingga sampai pada giliran saya yang tidak mau jebur, akhirnya dengan paksaan menjeburkan diri sendiri
Arung jeram telah menjadi kegiatan yang semakin popular bagi orang=orang.  Meskipun dikenal sebagai latihan fisik yang luar biasa, tidak banyak orang yang sadar dari sekian banyak manfaat psikologis arung jeram. Arung jeram sudah jelas menyediakan latihan fisik yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan tubuh yang baik.  Ia melatih setiap bagian dari tubuh lebih baik daripada peralatan pelatihan yang berani mengklaim.  Namun, manfaat psikologis arung jeram sangat melebihi manfaat fisiknya.

Salah satu keuntungan arung jeram adalah melepaskan diri dari dunia monoton kita. Orang dapat beristirahat dari kenyataan dan melupakan daftar things-to-do mereka. Ini membawa kita keluar dari kota yang penuh dengan kebisingan, faktor-faktor yang menekan, dan melepaskan diri ke lingkungan yang lebih tenang. Pikiran dapat difokuskan pada bersenang-senang dan santai. Tindakan sederhana melepaskan diri dari bekerja adalah keajaiban bagi jiwa. Menghapus faktor tekanan bahkan hanya untuk sehari pun, bisa menghidupkan jiwa seseorang.

Sungai penuh dengan pemandangan yang indah. Suara-suara alam yang terbukti menenangkan bahkan untuk bayi. Udara segar dan kedamaian memberikan ketenangan yang tidak dapat ditemukan di kota. Alam sendiri adalah menenangkan dan melepaskan stress untuk sebagian besar. Kekaguman dan keheranan akan keindahan alam bisa menyegarkan indra seseorang dengan cara-cara membayangkan yang tak terbayangkan.

Karena sungai arung jeram adalah kegiatan kelompok, maka setiap orang di perahu harus bekerja sama sebagai sebuah tim. Kerja tim ini membangun solidaritas yang memiliki keuntungan psikologis. Banyak dari apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak melibatkan kerja sama tim. Faktanya, dalam banyak kasus kita dipaksa untuk bekerja sendiri atau terhadap orang lain. Sosialisasi secara alami meningkatkan endorfin yang membantu dalam kesejahteraan psikologis. Ikatan diciptakan ketika melakukan dan berhasil pada tujuan yang sama, seperti kemudi sebuah rakit menyusuri sungai. Arung jeram bisa secara dramatis meningkatkan psikologis seseorang kesejahteraan serta menghidupkan kembali jiwa seseorang.

Meskipun jika perjalanan hanya berlangsung di akhir pekan, manfaat psikologis yang didapat sungguh menakjubkan. Kegembiraan psikis tidak berakhir ketika perjalanan sudah selesai. Studi telah membuktikan bahwa berpikir atau berbicara tentang peristiwa dari suatu kegiatan petualangan seperti arung jeram sungai menciptakan efek yang sama seperti melakukan kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain, setelah perjalanan berakhir dan 'kehidupan nyata' mulai lagi, pikiran tentang wisata akhir pekan yang menyenangkan akan terus membawa manfaat menghilangkan stres yang sama seperti yang terjadi ketika anda sedang berada di sana.

Berbicara secara menggebu-gebu tentang mengisi liburan yang menyenangkan sebenarnya akan terus membantu kesehatan psikologis untuk waktu lama yang akan datang.
Read More

NILAI DAN PERILAKU BUDI PEKERTI

Selasa, 03 Januari 2012 | 0 komentar

Oleh: Drs. Munir Jayuli
Disampaikan pada acara Diklat OSIS SMK N 1 Depok pada tanggal 24-25 Februari 2007 di Kaliurang
1.      Beriman dan Bertakwa
Mempunyai keyakinan yang mendalam tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa, terbiasa menjalankan perbuatan amal shaleh, selalu berusaha menjauhi segala larangannya, berusaha memahami ilmu keagaam scara mendalam, selalu menghindari sikap sombnong, takabur, ria’ dan buruk sangka sesamanya.
2.      Amal Shaleh
Terbiasa bersikap dan berperilaku yang menunjukkan ketaatan dalam melaksanakan perintah agama (ibadah) dan berbiasa menunjukkan perilaku yang baik dalam pergaulan sehari-hari;
3.      Amanah
Membakukan diri untuk hidup sesuai dengan kelayakan umum, tidak melupakan perasaan sebagai pelajar, dapat dipercaya dan dapat menyampaiakan pesan sebagai pelajar;
4.      Bersyukur
Terbiasa berdoa dalam kondisi apapun yang sedang dialaminya, menghindari sikap iri hati dan menikmati semua karunia Allah SWT baik dalam keadaan suka dan duka;
5.      Bekerja Keras
Selalu melakukan pekerjaan secara teratur dan bertanggung jawab, selalu berdisiplin, dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan, selalu belajar, dan berbakti kepada kedua orang tua, selalu berusaha mengerjakan pekerjaan dengan baik dan benar, tidak suka berpangku tangan, bermalas-malasan dan membuang-buang waktu;
6.      Berdisiplin
Memahami dan mematuhi segala peraturan dan tata tertib dalam lingkungan pergaulan sosial, terbiasa menjaga ketertiban umum, dan tata pergaulan secara bertanggung jawab, mematuhi norma-norma yang berlaku di sekolah, lingkungan keluarga maupun masyarakat untuk menjaga keutuhan hubungan sosial;
7.      Bersahaja
Terbiasa menggunakan uang untuk hal-hal yang penting khususnya yang berkitan dengan sekolah, menghindari sikap serakah, tidak berlebih-lebihan sesuatu dan selalu bertindak sesuai dengan kemampuan;
8.      Bersemangat
Terbiasa riang gembira dan giat dalam melakukan suatu pekerjaan, menghindari sikap pesimis, memeiliki kegaerahan hidup yang tinggi, memiliki kemauan bekerja yang tingi dan kemauan keras untuk berbuat sesuatu;
9.      Dinamis
Terbiasa bergerak lincah, befikir cerdasr, selalu beradaptasi dengan lingkungan, cepat bertindak, penuh gaerah dan selalu bersemangat dalam bekerja;
10.  Berhati Lembut
Selalu rendah hati atau tawadhu, selalu menjaga keutuhan pergaulan baik di sekolah maupun di masyarakat, selalu menjage temperamen demi keutuhan dirinya, tekun dan sabar dalam melakukan sesuatu dan mempunyai sifat kasih sayang terhadap sesame makhluk hidup.
Read More

KEHIDUPAN SPRITUAL ISLAM DAN PERANANYA DALAM PEMBINAAN KARAKTER BANGSA

(Makalah ini disampaikan oleh Dr. Amal Fathulah Zarkasyl “Wakil Rekotr ISID Gontor Ponorogo” dalam diskusi dengan tema Membangun Spiritualisme dalam Rangka Penguatan Jati Diri Dan Karakter Bangsa, diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi dengan SKH Kedaulatan Rakyat, di Universitas Negeri Yogyakarta, hari Jum’at tanggal 19 Agustus 2011.

Terapi Spiritual Umat Islam
1.      Masalah Keimanan
Bagi seorang yang hidup didunia ini harus beriman yaitu beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, yang dapat menjadi sandaran, tempat meminta pertolongan, tempat kembali;  Dialah Tuhan yang berhak diyakini eksistensiNya dan berhak disembah, Dia adalah Pencipta dan Pengatur seluruh isi alam semesta, termasuk syariat yang didalamnya mengatur kehidupan manusia baik jasmaniyah maupun rohaniya, juga memberikan criteria dan aturan akhlaq yang jelas bagi manusia (Muhammad Baysar, al’Aqidah wa al akhlaq, cet. 2, Maktabah al-Angla al Masriyah, 1970. H. 91-106)
Dalam teknik pengaturannya Allah menurunkan wahyu-Nya lewat Malaikat kemduain diteruskan kepada para Nabi dan Rasul-Nya agar manusia tidak sesat.  Karena kehidupan di dunia ini mempunyai konsekwensi di hari kemudian, maka disana harus ada iman kepada hari akhir yang mana setiap orang harus mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya.
Maka untuk dapat bertanggung jawab terhadap perbuatannya, Allah member manusia kekuatan, keinginan, dan kesanggupan untuk berbuat dan memilih perbuatan yang baik dan buruk, dengna iman bahwa Allah itu berkuasa untuk mengatur segala sesuatu, termasuk perbuatan dan nasib manusia.  Maka untuk mendapatkan taufiq (kesuksesan) semua usaha manusia harus dibarengi dengna doa, karena Allah punya andil dan campur tangan dalam menentukan perbuatan manusia (Amal Fathullah Zarkasyi, Dirasat fi ‘ilmu al kalam,  Darussalam university Press, Gontor, 2011, h.272)
Dengan keimanannya manusia menjadi jelas filsafat hidupnya, semakkn kuat mental dan sikap hidupnya, semakin terbangun karakternya, dan semakin yakin dan optimis dalam menghadapi segala macam cobaan dan tantangan hidupnay.  Umpamanya bagi seorang muslim dalam menghadapi musibah, dia tidak putus asa dan menyalakan Allah, tetapi dia tetap optimis, sebab musibah bagi seorang muslim adalah ujian di dunia, apabila dia lulus, berarti dia akan bertambah kuat imannya, sebaliknya apabila mengalami kesenangan/kenikmatan, seorang muslim tidak boleh sombong., berubah imannya, berubah sikap hidup dan mentalnya, tetapi harus tetap bersyukur.  Sebab ujian itu dalam islma berbentuk kebaikan dan juga berbentuk musibah.

2.      Syariah
Adalah aturan Allah yang diberlakukan bagi kehidupan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi ini berupa hukum ibadah, kaffrat, nadir, muamalat keuangna (jual beli), hukum keluarga, hukum pidana, dan ganjarannya, hukum tata negara, dan lain-lain (Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, al-Madkhal il al-Tasawuf al-Islami, Dar al-Thaqaf II taba’ah wa al-Nasyr, al-Qahirahm 1979, h.12)
Isinya adalah perintah dan larangan, anjuran, harapan, ancaman, dan pemberian kabar baik.  Orang yang dapat menjalankan syariah dengan sebaik-baiknya, maka dia disebut sebagai muttaqin.

3.      Akhlaq dan Kehidupan Rohaniyah (Spiritualisme)
Bahwa di dalam al Quran telah banyak sekali ayat-ayat Al-quran yang menyuruh kita untuk berakhlaq karimah, seperti: zuhud, sabar, tawakkal, ridho, mohabbah, yaqin, wara’, dan lian-lainnya yang sayogyanya bagi seorang muslim untuk melengkapi imannya dengan sifat-sifat akhlaq tersebut.  Karena Rasulullah adalah contoh yang sempurna dalam hal ini, maka kita disuruh mencontoh Rasulullah.
Sebenarnya bahwa akhlaq Islam adalah asas dari syariat, dimana kalau hukum syairat baik dalam bidang akidah maupun fiqh taida unsure akhlaq maka dia bagaikan bentuk tanpa ruh, atau bangunan tanpa isi, atau badan tanpa jiwa.
Maka beragama bukanlah sekedar melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat formal tanpa memperhtaikan substansinya, atau menjastifikasi agama hanya sekedar mencapai tujuan-tujuan pribadi, tetapi beragama adalah memahami agama dengan penuh kesadaran dan melaksanakan dengan konsekuensi, juga menghubungkan antara ibadah dan kehidupan masyarakat, dan bukanlah seorang yang beragama itu dengan cara mengasingkan diri jauh dari kehidupan sosial.
Yang perlu dipahami bagi seorang muslim bahwa agama dalam substansinya adalah akhlaq, yaitu akhlaq mengatur antara hamba dengan Tuhannya, antara dia dengan dirinya, dia dengan keluarganya, kemudian dia dengna masyarakatnya.



Jadi kehidupan spiritual Islam itu adalah mempunyai dimensi yang cukup banyak, yaitu dimensi spiritual yang memperbanyak dimensi ibadah, sholat, zakat, siyam, haji, baik yang wajib maupun yang sunnah, memperbanyak dzikir, wirid khususnya yang makthur (wirid, doa yang ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya) disamping itu adalanya diemnsi pengekangan hawa nafsu yang disebut tahanus (Mempersedikitkan makan dan minum), zuhud (menjaga dirinya agar tidak dikuasai oleh hawa nafsunya, bahkan sebaliknya, dirinya dapat mengekang hawa nafsunya), dan lain-lainnya yang tertera dalam maqamat dan sifat-sifat terpuji yang disifati oleh kaum sufiyah.  Sehingga kita dapat menjaga diri kita dari segala macam godaan syaethan yang menjerumsukan kita ke lembah kesesatan dan kehancuran dalam sega bidang kehidupan.

Read More

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Oleh: Prof. Darmiyati Zuchdi, Ed. D

Makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional di FISE UNY


Pemerintah telah membuat Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025.  Tujuan Kebijakan Nasional tersebut adalah untuk:

Membina dan mengembangkan karakter warga negara seingga mampu mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijajsanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 4)

Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:
1.      Pengembangan potensi dasar, agar “berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik;
2.      Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik;
3.      Penyaring budaya yang kuran sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.  Ruang lingkupnya meliputi:  keluarga, satuan pendidikan, pemerintahan, masyarakat sipil, masyarakat politik, dunia usaha dan indsutri, dan media massa.  Hal ini menunjukkan bahwa semua elemen masyarakat diminta berpartisipasi dalam gerakan pembangunan bangsa.  Dalam hal ini, satuan pendidikan, terutama pendidikan formal sangat sentral posisi dan perannya (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 5-7)


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI LINGKUP SATUAN PENDIDIKAN

Mengacu pada Kebijakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa (2010), Kementerian Pendidikan Nasional telah menyusun Desain Induk Pendidikan Karakter 2010.  Isinya mencakup antara lain kerangka dasar, pendekatan, dan strategi implementasi pendidikan karakter.

Konfigurasi karakter ditetapkan berdasarkan empat proses psikososisal, yaitu:
1.      Olah pikir
Nilai-nilai yang terdapat di dalam olah pikir ini adalah cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi ipteks, dan reflektif. 
2.      Olah hati
Yang berasal dari olah ini adalah jujur, beriman dan bertakwa, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, rela berkorban, dan berjiwa patriotic.
3.      Olah raga
Tangguh, bersih dan sehat, disiplin, sportif, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, kompetitif, ceria.
4.      Olah rasa/karsa
Peduli, ramah, santun, rapi, nyaman, saling menghargai, toleran, suka menolong, gotong royong, nasionalis/kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggnakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, beretos kerja, dan gigih.
            (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:9)


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Pendidikan karakter di lingkup satuan pendidikan perguruan tinggi dilaksanakan melalui tridharma perguruan tinggi, budaya organisasi, kegiatan kemahasiswaan, dan kegiatan keseharian (Tim Pendidikan Karakter Ditjen Dikti, 20110).
Penjelasan dari setiap aspek pendidikan sebagai berikut:
a.       Tridharma Perguruan Tinggi:  Pengintegrasian nilai-nilai utama ke dalam kegiatan pendidikan, penelitian serta publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat;
b.      Budaya organisasi:  pembiasaan dalam kepemimpinan dan pengelolaan perguruan tinggi;
c.       Kegiatan kemahassiwaan:  pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam kegiatan kemahasiswaan, antara lain: Pramuka, Olahraga, Karya Tulis, Seni;
d.      Kegiatan keseharian:  Penerapan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus, asrama/pondokan/keluarga, dan masyarakat.

Langkah-langkah pengembangan budaya Perguruan Tinggi (Naskah Akademik Peraturan Universitas Negeri Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pengembangan Kultur Universitas) adalah sebagai berikut:
1)      Menganalisis budaya yang telah ada untuk menentukan kesenjangannya dengan budaya yang diinginkan;
2)      Merumuskan target mutu yang akan dicapai;
3)      Menganalisis kepemimpinanan di setiap unit kerja;
4)      Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat;
5)      Menerapkan strategi mewujudkan budaya, termasuk membangun kesinergisan internal dan kemitraan eksternal, pengembangan kapasistas, pemberdayaan system informasi, dsb.
6)      Melakukan evaluasi secara terus menerus dengan tolok ukur yang jelas dan memanfaatkannya untuk merancang tulang program pengembangan budaya Perguruan Tinggi.
Untuk mewujudkan budaya perguruan tinggi.  Diperlukan karakter individu, yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.  Dalam mewujudkan karakter individu, diperlukan pengembangan diri secara holistic, yang bersumber pada olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah karsa.  Seperti yang telah dikemukakan dari konfigurasi nilai yang terdapat dalam ranah olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa/karsa masing-masing diambil satu nilai sebagai nilai-nilai utama karakter yang dikembangkan secara nasional, termasuk dilingkungan Dikti.  Karakter yang dimaksud adalah: Jujur, Cerdas, Tangguh, Peduli (Jurdastangli).

Definisi Konseptual Jujur, Cerdas, Tangguh, dan Peduli
1)      Jujur:  Lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus, ikhlas
2)      Cerdsar:  Sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, tajam pikirannya.
3)      Tangguh:  Sukar dikalahkan, kuat, andal, kuat sekali pendiriannya, tabah dan tahan menderita
4)      Peduli: Mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan.

Read More